×

Kilas Balik Tour d’Indonesia 2018

Tour d’Indonesia 2019 akan bergulir sekitar dua setengah bulan lagi, tepatnya pada 19-23 Agustus, berawal dari Candi Borobudur, Magelang, dan berakhir di Batur Geopark, Bali. Dan, sekarang saatnya kita melihat kembali perjalanan Tour d’Indonesia 2018. Setelah mati suri selama tujuh tahun, Tour d’Indonesia kembali berlangsung pada tahun 2018. Meski jumlah etape jauh menurun, dari 10 etape menjadi empat etape, tapi secara kualitas, lomba ini mengalami peningkatan status dari 2.2 menjadi 2.1. Gelaran ini diikuti oleh 94 pembalap dari 15 tim, termasuk 19 pembalap U-23 dan 29 pembalap tuan rumah. Tak hanya tim dari Asia dan Oseania, tim dari benua Afrika dan Eropa juga berpartisipasi dalam kompetisi ini, yaitu Tim Nasional Eritrea dan Tim Java Partizan dari Serbia. Etape pertama menempuh jarak 127,4 kilometer dari Candi Prambanan, Yogyakarta, menuju Alun-alun Kota Ngawi, pada Kamis, 25 Januari 2018. Para pembalap menghadapi lintasan yang relatif datar, dengan tiga intermediate sprint.

Robin Manulang dari PGN Road Cycling Team memenangi intermediate sprint pertama di km 40, tepatnya di depan Taman Sriwedari Solo. Intermediate sprint kedua, yang terletak di km 72,6 di Sragen, dimenangkan oleh pembalap Terengganu Cycling Team, Nur Mazuki, sementara Mathew Zenovich dari St. George Continental Cycling Team menang di intermediate sprint ketiga. Persaingan ketat terjadi saat sprint terakhir jelang garis finis dan pembalap Team Sapura Cycling, Dylan Page, menjadi yang tercepat di etape pertama, disusul oleh Projo Waseso dari Tim Nasional Indonesia, sementara pembalap Tim KFC, Abdul Gani, melengkapi podium. Untuk kategori tim, Terengganu Cycling Team menempati peringkat pertama, disusul Tim Nasional Indonesia dan Team Sapura Cycling di urutan kedua dan ketiga. “Saya sangat senang bisa menang di lomba yang luar biasa ini. Saya seorang sprinter, jadi saya memanfaatkan kesempatan hari ini untuk menang dan semoga bisa berlanjut besok. Saya belum pernah ikut lomba di Indonesia, jadi mungkin pembalap lain tidak mengenal saya. Hari ini mungkin lebih mudah, tapi besok mungkin mereka sudah mengawasi saya,” ujar Page, yang berasal dari Swiss ini. Madiun menjadi titik awal etape kedua yang berjarak 117,5 kilometer dengan titik akhir di Mojokerto. Masih dengan lintasan yang datar, bukan berarti lomba berjalan mudah karena para pembalap harus menghadapi hujan deras di sebagian besar lomba. Charlampos Kastrantas, dari tim Java Partizan, langsung merebut lima poin di intermediate sprint pertama di KM 15,7. Juara nasional Yunani ini mempertahankan posisinya di intermediate sprint kedua, yang terletak di KM 48,9.

Tapi, memasuki KM 65 Abdul Gani melakukan break dan memimpin di intermediate sprint terakhir di KM 89,3 di Jombang. Gani terus mempertahankan posisi terdepan meski sempat menurun di 25 kilometer terakhir. Pada 200 meter jelang finis, Gani kembali mendaptakan tenaga untuk melakukan sprint terakhir dan menjadi pembalap pertama yang masuk finis. “Ini kemenangan pertama saya sebagai pembalap professional di lomba kategori 2.1. Rasanya luar biasa. Ini prestasi luar biasa bagi saya dan tim. Ini membuktikan kalau pembalap Indonesia juga bisa,” kata Gani, yang memimpin klasemen umum memasuki etape ketiga. Dua pembalap Malaysia, Mohd Shahrul Mat Amin dari Team Sapura Cycling dan Muhammad Nur Aiman dari Terengganu Cycling Team, melengkapi podium. Untuk kategori tim, Team Sapura Cycling berada di peringkat pertama, disusul Terengganu Cycling Team dan Thailand Continental Cycling Team di peringkat dua dan tiga. Etape ketiga menjadi etape terpanjang dalam Tour d’Indonesia 2018, dengan jarak 200 kilometer dari Alun-alun Kota Probolinggo menuju Taman Blambangan, Banyuwangi. Lintasan yang dilalui pun lebih bervariasi dengan adanya tiga climbing point dan tiga intermediate sprint.

Memasuki Lumajang, para pembalap sudah mulai menghadapi tanjakan dan Muhammad Zawawi Azman dari Team Sapura Cycling merebut tiga poin tanjakan pertama di KM 21,2. Team Sapura Cycling masih mendominasi perolehan poin saat Aiman Cahyadi mendapat lima poin di intermediate sprint pertama di KM 65. Muhammad Afiq Huznie Othman dari Terengganu Cycling Team menjadi yang terdepan di intermediate sprint kedua di KM 96. Memasuki lintasan menanjak, pembalap dari Thailand Continental Cycling Team mulai merangsek ke depan. Ariya Phounsavath memimpin di tanjakan dan merebut total 10 poin di dua climbing point, yaitu di KM 120,9 dan KM 131,2 di Kumitir yang legendaris itu. Phounsavath memanfaatkan posisinya untuk mendulang lima poin berikutnya di intermediate sprint ketiga di KM 165,2. Memasuki 5 kilometer terakhir, tim Java Partizan mengambil alih lomba dan mengatur posisi untuk Kastrantas. Di 300 meter jelang finis, pembalap Yunani ini melakukan sprint dan berhasil memenangkan etape ketiga.

“Saya pada dasarnya seorang sprinter, tapi saya mampu menaklukkan tanjakan-tanjakan itu. Saya rasa karena saya jauh lebih siap daripada sprinter yang lain. Saya sebelumnya sudah berlatih banyak untuk menaklukkan tanjakan,” kata Kastrantas, yang baru kali ini ikut berlomba di Indonesia. Dua pembalap Indonesia, Projo Waseso dari Tim Nasional Indonesia dan Muhamad Imam Arifin dari KFC, menempati posisi kedua dan ketiga. Pulau Bali menjadi tuan rumah etape keempat Tour d’Indonesia 2018. Dengan jarak 170,9 kilometer dari Gilimanuk menuju Denpasar, persaingan masih terbuka karena para pembalap akan menghadapi tanjakan terberat dalam tur ini, yaitu tanjakan kategori hors class di Bedugul dengan ketinggai 1,411 meter.

Dan, itulah yang terjadi. Rustom Lim dari 7Eleven-Cliqq memimpin di dua intermediate sprint pertama. Memasuki jalan menanjak, rombongan mulai terpecah. Tanjakan yang panjang dan curam menjadi santapan empuk para pembalap berkarakter climber. Hanibal Tesfay dari Eritrea meraih 10 poin di climbing point, disusul oleh Jokin Etxtabe dari Interpro Stradali Cycling. Dua pembalap Thailand Continental Cycling Team, Phounsavath dan Peerapol Chawchiangkwang membuntuti di urutan tiga dan empat. Tapi, saat jalan menurun keduanya mulai mengambil inisiatif. Empat pembalap terdepan ini terus bersama hingga intermediate sprint terakhir di KM 157,7 yang dimenangkan oleh Chawchiangkwang. Unggul jauh sejak tanjakan, kelompok empat pembalap ini terus berada di depan hingga menjelang finis dan Chawchiangkwang unggul di sprint terakhir di depan Etxtabe dan Tesfay, sementara Phounsavath yang finis di urutan keempat akhirnya menjadi juara umum Tour d’Indonesia 2018. “Saya sangat bahagia tentunya. Ini target saya, apalagi setelah saya mencoba untuk menang di hari kedua, namun gagal. Di hari ketiga, saya coba menang lagi tapi gagal lagi, sampai akhirnya pada hari ini,” ujar Phounsavath yang sempat memimpin jauh di etape ketiga namun tertangkap peloton. Suksesnya, ujar Phounsavath, tak lepas dari kerjasama tim yang baik, strategi yang tepat, serta persiapan yang mumpuni.

“Balap sepeda adalah olahraga yang cukup berat. Kita tak hanya dituntut untuk kuat, namun juga cerdas. Masa pemulihan fisik yang tepat, pijat dan kualitas tidur yang baik. Saya percaya diri bisa menang. Saya melihat tim saya sangat kuat dan mereka percaya pada saya,” katanya lagi. Tak hanya menjadi juara umum, pembalap asal Laos ini juga memimpin klasemen King of Mountain dengan 15 poin, sementara klasifikasi poin atau sprinter terbaik menjadi milik Rustom Lim, dan gelar pembalap Indonesia terbaik menjadi milik Aiman Cahyadi. Di klasifikasi umum tim, Thailand Continental Cycling Team juga menjadi yang terbaik, disusul Team Sapuran Cycling, dan St. George Continental Cycling Team. KFC Cycling Team menjadi tim Indonesia terbaik dan duduk di urutan enam klasifikasi umum. Sampai jumpa di Tour d’Indonesia 2019!